Hasto Kristiyanto Terima Buku Prison Diary dari Dubes Rusia, Kisah Penjara Jadi Simbol Perlawanan Politik

Hasto Kristiyanto
Hasto Kristiyanto menerima buku Prison Diary dari Dubes Rusia Sergei Tolchenov.(Foto.dok.Ist)/MPPbonbol.id

Hasto Kristiyanto
Hasto Kristiyanto menerima buku Prison Diary dari Dubes Rusia Sergei Tolchenov.(Foto.dok.Ist)/MPPbonbol.id

MPPbonbol.id — Pertemuan hangat antara Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026, menyisakan pesan politik yang kuat. Di sela kunjungan diplomatik itu, Tolchenov menyerahkan sebuah buku berjudul Prison Diary kepada Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto.

Buku tersebut bukan sekadar cendera mata diplomatik biasa. Prison Diary merupakan karya Maria Butina, perempuan Rusia yang pernah menjadi sorotan internasional setelah menjalani penahanan di Amerika Serikat akibat tuduhan sebagai agen asing Rusia tanpa registrasi resmi.

Dubes Tolchenov menyebut buku itu memiliki keterkaitan emosional dan simbolik dengan perjalanan politik Hasto Kristiyanto yang belakangan menghadapi berbagai dinamika dan tekanan politik.

“Hidup Anda sebagai politisi penuh dinamika dan perjuangan menghadapi tantangan. Karena itu saya memberikan buku ini tentang perjuangan Maria Butina selama berada di penjara Amerika Serikat,” ujar Tolchenov saat menyerahkan buku tersebut kepada Hasto.

Baca Juga :  Filosofi Trofi Soekarno Cup Karya Prananda Prabowo, Berlapis Emas Murni

Pernyataan itu langsung menarik perhatian dalam suasana pertemuan yang berlangsung tertutup namun penuh nuansa diplomasi politik. Buku tersebut dinilai menjadi simbol solidaritas terhadap pengalaman perjuangan politik yang dialami seseorang di tengah tekanan kekuasaan.

Hasto menyambut pemberian itu dengan penuh antusias. Ia bahkan menyatakan akan membalas pemberian tersebut dengan mengirimkan buku disertasinya mengenai pemikiran geopolitik Bung Karno yang memuat konstruksi teori Progressive Geopolitical Coexistence.

Menurut Hasto, hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun melalui diplomasi formal, tetapi juga lewat pertukaran gagasan dan pengalaman sejarah politik.

Baca Juga :  PDIP Tetapkan Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, Djarot: Pengingat Arah Perjuangan Kader

“Saya akan mengirimkan buku disertasi tentang geopolitik Bung Karno beserta konstruksi teori Progressive Geopolitical Coexistence,” kata Hasto.

Maria Butina sendiri dikenal luas setelah kasus hukumnya menyita perhatian publik internasional pada 2018. Dalam bukunya, ia menceritakan pengalaman hidup selama mendekam di penjara Amerika Serikat, termasuk tekanan psikologis, situasi penahanan, hingga pandangannya mengenai tuduhan politik yang diarahkan kepadanya.

Butina menggambarkan dirinya sebagai korban ketegangan politik pasca Pemilu Amerika Serikat 2016 yang saat itu dipenuhi sentimen anti-Rusia. Narasi tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam buku yang kini beredar di banyak negara.

Di hadapan Dubes Rusia, Hasto juga sempat membagikan pengalaman pribadinya selama berada di penjara. Ia mengaku justru memanfaatkan masa tersebut untuk memperkuat produktivitas intelektual.

“Hidup saya di penjara sangat produktif. Saya bisa menuliskan enam buku,” ujar Hasto penuh semangat.

Baca Juga :  Esai Reflektif Redilog tentang Megawati dan Sejarah yang Tidak Pernah Jinak

Pernyataan itu memunculkan kesan bahwa penjara bukan akhir dari perjuangan politik, melainkan ruang refleksi dan produksi gagasan. Dalam konteks politik Indonesia, narasi seperti itu sering kali dikaitkan dengan tokoh-tokoh politik yang membangun legitimasi melalui pengalaman tekanan kekuasaan.

Pertemuan antara Dubes Rusia dan elite PDIP itu juga memperlihatkan hubungan yang semakin terbuka antara Rusia dan Indonesia dalam bidang pemikiran geopolitik serta pertukaran perspektif ideologis.

Di tengah dinamika global yang terus berubah, simbol-simbol politik seperti buku Prison Diary tampaknya tidak lagi sekadar karya literasi, melainkan menjadi pesan diplomatik yang sarat makna tentang perjuangan, kekuasaan, dan ketahanan politik seseorang menghadapi tekanan zaman.

Merdeka...!!