
MPPbonbol.id – “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.” Kalimat legendaris dari Proklamator RI, Bung Karno, pada tahun 1962 kembali menggema sebagai pengingat keras bagi arah diplomasi Indonesia di panggung internasional.
Indonesia kini berada di posisi strategis dalam berbagai forum perdamaian dunia. Namun, sebuah paradoks muncul di meja-meja perundingan global: kehadiran Indonesia di meja yang sama dengan pihak yang disebut sebagai penjajah, sementara suara Palestina seringkali absen atau tak diberikan kursi yang setara.
Janji Kemanusiaan di Atas Politik
Persoalan Palestina bagi Indonesia ditegaskan bukan sekadar komoditas politik atau sentimen agama semata, melainkan sebuah janji kemanusiaan yang tertanam dalam konstitusi. Fenomena “kursi kosong” di meja perdamaian menjadi simbol ketimpangan yang nyata.
“Bisakah kita bicara ‘damai’ jika korban penjajahan justru tak punya suara di meja yang sama? Ini bukan sekadar soal diplomasi formal, ini soal janji kemanusiaan yang melampaui kepentingan politik praktis,” ungkapan kritis Soekarno.
Wajah Baru Kolonialisme
Banyak pihak terjebak dalam memori masa lalu bahwa kolonialisme hanyalah soal kerja rodi atau tanam paksa. Padahal, realitas di Palestina saat ini menjadi bukti otentik bahwa kolonialisme belum mati; ia hanya berganti wajah menjadi penindasan sistematis yang terjadi di depan mata dunia modern.
Bung Karno dengan tegas menempatkan Indonesia sebagai negara yang tak akan berhenti menantang segala bentuk penjajahan di atas tanah Palestina. Landasannya jelas: kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
“Kemerdekaan itu hak segala bangsa, tanpa tapi, tanpa nanti. Apa yang terjadi di Palestina hari ini adalah bukti nyata bahwa semangat kolonialisme masih berdenyut dan kita punya hutang sejarah untuk melawannya,” tegas Soekarno dengan kritis.
Tantangan bagi Diplomasi RI
Sebagai negara yang memegang teguh amanat UUD 1945, langkah Indonesia di Dewan Perdamaian dunia kini terus disorot. Publik menagih konsistensi antara posisi duduk di meja internasional dengan keberanian untuk tetap menjadi penyambung lidah bagi bangsa yang masih terjajah.
Sejarah mencatat bahwa Indonesia tidak akan pernah berhenti berdiri di samping Palestina. Namun, tantangannya kini adalah memastikan bahwa di setiap meja perdamaian yang dihadiri Indonesia, kursi bagi Palestina tidak lagi kosong, dan suara mereka tidak lagi dibungkam.







Leave a Reply