
MPPbonbol.id – Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bone Bolango, Muhlis Lakodi, memilih cara berbeda dalam memperingati Hari Kartini. Di tengah peringatan yang digelar kader dan pengurus partai di berbagai daerah, Muhlis justru melakukan ziarah atau nyekar langsung ke makam Pahlawan Nasional Hj. Fatmawati Soekarno di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat.
Langkah itu dilakukan Muhlis sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok perempuan bangsa yang memiliki jejak penting dalam sejarah Indonesia. Fatmawati dikenal luas sebagai penjahit Bendera Pusaka Merah Putih sekaligus istri Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Makam Fatmawati berada di Blok AA1 Unit Islam, TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Makam tersebut tampak terawat dengan nuansa marmer putih. Fatmawati wafat pada 14 Mei 1980 dan namanya dikenang sebagai salah satu tokoh perempuan penting dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Muhlis, peringatan Hari Kartini merupakan agenda besar di lingkungan PDI Perjuangan. Ia mengatakan, partai melalui surat edaran telah menegaskan bahwa seluruh kader dan pengurus wajib memperingati momentum tersebut.

“Peringatan Hari Kartini menjadi agenda besar PDI Perjuangan. Ada edaran partai bahwa seluruh kader dan pengurus wajib memperingatinya. Namun saya ingin melihat lebih dekat sosok Pahlawan Nasional Hj. Fatmawati, yang tidak lain adalah istri dari bapak proklamator,” ujar Muhlis.
Bagi Muhlis, memilih nyekar ke makam Fatmawati bukan sekadar bentuk penghormatan, tetapi juga cara untuk mengingat kembali peran besar perempuan dalam perjuangan bangsa. Menurut dia, semangat Hari Kartini tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk meneladani pengabdian, keberanian, dan keteguhan tokoh-tokoh perempuan Indonesia.
Ziarah ke makam Fatmawati, kata dia, menjadi pengingat bahwa sejarah bangsa ini juga dibangun oleh peran perempuan yang bekerja dalam senyap, tetapi memberi dampak besar bagi perjalanan negara. Sosok Fatmawati menjadi simbol pengabdian perempuan Indonesia, baik dalam kehidupan keluarga, perjuangan kebangsaan, maupun dalam menanamkan semangat cinta Tanah Air.
Dengan memilih cara yang berbeda dalam memperingati Hari Kartini, Muhlis ingin menegaskan bahwa mengenang jasa pahlawan perempuan tidak cukup hanya lewat seremoni, tetapi juga melalui upaya meresapi langsung jejak perjuangan mereka.








Leave a Reply