Megawati Soekarno Putri
Pada 23 Januari 2026, Ibu Megawati genap berusia 79 tahun/MPPbonbol.id

Esai Reflektif Redilog tentang Megawati dan Sejarah yang Tidak Pernah Jinak

Kesetiaan yang Menyakitkan

Oleh: Andrio An (Penulis REDILOG)

Saya lahir 01 Januari 1977.
Ibu Megawati Soekarnoputri lahir 23 Januari 1947…
Kami dipisahkan oleh tiga dekade, tetapi dipertemukan oleh satu nasib sejarah yang sama: “hidup di negeri yang sering mengkhianati cita-citanya sendiri”.

Pada 23 Januari 2026, Ibu Megawati genap berusia 79 tahun. Dan di usia itu, ia bukan sekadar tokoh politik. Ia adalah “tubuh sejarah”, tempat luka-luka bangsa disimpan, dipikul, dan dipertahankan agar tidak dilenyapkan oleh zaman yang gemar lupa.

Redilog mengajarkan bahwa sejarah bukan kisah orang baik melawan orang jahat. Sejarah adalah *”pertarungan kepentingan material”, pertarungan kelas, pertarungan ideologi. Dalam pertarungan itu, Ibu Megawati tidak memilih jalan aman. Ia memilih jalan yang “menyakitkan tapi jujur”: SETIA.

Kesetiaan adalah kata yang mahal.
Dan karena mahal, ia sering ditertawakan, diolok-oloj bahkan dicaci.

Megawati adalah anak dari seorang Proklamator, tetapi hidupnya justru menjadi contoh paling telanjang tentang bagaimana negara bisa memakan anak revolusinya sendiri. Ia dibungkam, disingkirkan, dan dipaksa diam, bukan karena ia salah, tetapi karena ingatan tentang Bung Karno terlalu berbahaya bagi rezim yang berdiri di atas pengkhianatan sejarah.

Di situlah dialektika bekerja: Bung Karno dilenyapkan secara politik. Ibu Megawati dijinakkan secara struktural. Dan rakyat…seperti biasa…dipaksa lupa.

Baca Juga :  Rotasi Fraksi PDIP di DPR, Said Abdullah: Ini Hal Lumrah, Bagian dari Tour of Duty

Tetapi Ibu Megawati menolak lupa. Dan penolakan itulah yang membuatnya berbahaya. Ia tidak melawan dengan senjata. Ia tidak memimpin pemberontakan. Ia hanya melakukan satu hal yang paling dibenci oleh kekuasaan pragmatis: “bertahan tanpa menyerah secara ideologis”. Dalam Redilog, ini bukan sikap lemah. Ini adalah “perlawanan historis”.

Saya tumbuh di zaman ketika ideologi dianggap kuno. Ketika politik direduksi menjadi elektabilitas. Ketika kekuasaan diukur dari seberapa dekat seseorang dengan oligarki. Justru di zaman itulah Ibu Megawati menjadi “tidak nyaman untuk dicintai, tetapi mustahil untuk diabaikan”.

Ia tidak pandai memoles kata.
Ia tidak menjual harapan palsu.
Ia bahkan sering tampak kaku, keras, dan tidak populer.

Tetapi Redilog tidak menilai politik dari estetika. Redilog menilai dari keberpihakan material.

Di titik inilah saya mulai memahami Ibu Megawati: ia tidak sedang mengejar kemenangan jangka pendek. Ia sedang “menjaga kontinuitas sejarah”. Menjaga agar perjuangan rakyat tidak berubah menjadi sekadar manajemen kekuasaan elit.

Sebagai generasi pasca-1965, pasca-pembungkaman, pasca-pengkhianatan ideologi, kami yang lahir di tahun-tahun sunyi…mewarisi “beban yang tidak kami pilih”. Kami tidak mengalami revolusi, tetapi kami hidup dalam “konsekuensi revolusi yang dikhianati”.

Baca Juga :  Prananda Prabowo Buka Soekarno Cup II 2025 di Bali, Padukan Sepak Bola dan Budaya

Dan Ibu Megawati berdiri di antara dua zaman itu. Ia adalah “jembatan yang rapuh tetapi menentukan”. Keriput di wajahnya bukan tanda tua. Itu adalah “retakan sejarah yang belum diselesaikan”. Diamnya bukan ketidakmampuan bicara. Itu adalah “bahasa politik orang yang tahu bahwa sejarah bergerak lebih lambat dari emosi”.

Banyak orang menuntut Ibu Megawati untuk selalu benar. Itu tuntutan yang malas. Yang lebih jujur adalah mengakui: “tanpa Ibu Megawati, ingatan ideologis bangsa ini mungkin sudah lama mati”.

Dan saya,…seorang anak Januari 1977, tidak menulis ini sebagai pemuja. Saya menulis ini sebagai SAKSI GENERASI. Bahwa di tengah politik yang semakin cair, semakin transaksional, semakin lupa arah, masih ada satu pelajaran keras yang ditinggalkan oleh Ibu Megawati:

“Perjuangan tidak harus selalu menang.
Tetapi pengkhianatan selalu kalah dalam jangka panjang”.

Namun seluruh dialektika itu, sejarah, ideologi, pertentangan, kesetiaan yang menyakitkan, mendadak mencair pada satu momen yang sangat manusiawi: hari ketika saya berdiri dan bertemu langsung dengan beliau.

Di sana, saya tidak lagi hanya melihat Ibu Megawati sebagai simbol politik atau figur keras yang dibentuk oleh sejarah. Saya justru menemukan seorang ibu yang lembut dalam diamnya. Tatapannya tenang, gesturnya sederhana, dan genggaman tangannya tidak memerintah…ia MENGUATKAN.

Baca Juga :  Analisis Tajam: PDI Perjuangan Tolak Pilkada DPRD, Awas Demokrasi Dibajak Cukong

Pada saat itu, seluruh narasi tentang kekuasaan runtuh. Yang tersisa adalah “seorang negarawan sejati”, bukan karena jabatan yang pernah disandangnya, tetapi karena cara ia mencintai rakyatnya tanpa perlu banyak kata. Cinta yang tidak dipamerkan. Cinta yang tidak dikapitalisasi. Cinta yang tetap bertahan, bahkan ketika tidak selalu dibalas oleh sejarah.

Saya menyadari satu hal: seluruh kekerasan sejarah yang membentuk Ibu Megawati tidak pernah menghilangkan kelembutan kemanusiaannya. Dan mungkin, justru dari situlah kekuatannya berasal.

Dalam Redilog, kita belajar bahwa sejarah digerakkan oleh kontradiksi. Namun di hadapannya, saya belajar bahwa kontradiksi terbesar adalah ini:

“Seorang perempuan yang ditempa oleh kekerasan politik, justru tumbuh menjadi IBU BANGSA yang mencintai rakyatnya, tanpa dendam”.

Di titik itu, refleksi saya selesai. Bukan karena sejarah telah usai, melainkan karena saya tahu:
“perjuangan yang paling panjang bukan merebut kekuasaan, tetapi menjaga cinta pada rakyat, ketika kekuasaan datang dan pergi”.

Dan Ibu Megawati, dengan segala luka dan keteguhannya, telah memilih jalan itu.

Selamat Ulang Tahun Ibu…
Di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya…
Satyam Eva Jayate…

@sorotan
#Dialektika_Andrio
#Redilog

Merdeka...!!