MPPbonbol.id – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I sekaligus peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan pada Januari 2026 menyajikan atmosfer berbeda. Di tengah agenda politik yang biasanya padat dengan orasi, hadirnya pagelaran bertajuk Singgasana Seni Bung Karno karya Media Pintar Perjuangan (MPP) mencuri perhatian publik dan pengamat sebagai sebuah manuver komunikasi politik yang segar.
Alih-alih sekadar hiburan selingan, atraksi ini dinilai sebagai manifestasi konkret dari transformasi strategi partai dalam menerjemahkan ajaran Trisakti.
“Ini adalah bukti bahwa politik tidak melulu soal instruksi, tetapi juga soal estetika dan rasa,” ujar sumber internal dari Media Pintar Perjuangan (MPP) di sela-sela acara di Jakarta, Ahad, 11 Januari 2026.
Menurutnya, langkah MPP membalut ajaran Sang Proklamator melalui tata visual megah dan fashion show merupakan upaya radikal untuk mengubah persepsi kaku yang kerap melekat pada acara partai.
“Kami menerjemahkan ideologi Marhaenisme dan konsep berkepribadian dalam kebudayaan ke dalam bahasa visual yang lebih universal. Jika narasi politik biasanya verbal, Singgasana Seni Bung Karno membuatnya emosional dan relevan,” tambahnya.
Jembatan Pop Culture untuk Gen Z
Sorotan utama tertuju pada bagaimana MPP menggunakan pendekatan budaya populer (pop culture) untuk meruntuhkan tembok pemisah antara sejarah politik konvensional dengan generasi muda. Pagelaran ini disebut-sebut sukses menempatkan Bung Karno bukan hanya sebagai figur teks sejarah, melainkan ikon gaya hidup.
“Anak muda, Gen Z dan Milenial, mungkin merasa berjarak jika kita hanya bicara sejarah lewat pidato. Namun, lewat seni dan mode, Bung Karno hadir sebagai inspirasi kreativitas masa kini,” tegas salah satu kreator MPP dalam keterangan resminya.
Simbolisme Takhta Ideologis
Terkait penggunaan diksi ‘Singgasana’, pihak penyelenggara menampik adanya asosiasi dengan feodalisme kekuasaan. Istilah tersebut justru dipilih sebagai metafora posisi ideologi dalam tubuh partai.
“Judul Singgasana Seni Bung Karno ini merujuk pada pemikiran dan cita-cita Bung Karno yang menduduki tempat tertinggi dalam jiwa setiap kader. Legitimasi kami bukan hanya dari suara elektoral, tapi dari kesetiaan merawat warisan intelektual beliau,” ungkapnya.
Lebih jauh, acara ini juga mengirimkan sinyal kuat mengenai keberpihakan partai pada sektor ekonomi kreatif sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi (Berdikari). Seni tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sektor strategis bernilai ekonomi tinggi.
“Ini statement tegas bahwa PDIP di bawah pengelolaan kreatif sedang menjaga api sejarah tetap menyala, namun dengan bahan bakar kreativitas masa depan,” pungkasnya.











Leave a Reply